KENANGAN
SEJARAH DI MUSEUM DIRGANTARA
Disusun
oleh :
Ø Qori
Sieta Rawina (04)
Ø Rikha
Listianti (05)
Ø Wira
Damar Arditha (12)
Ø Yuda
Wahyu Romadhon (14)
Ø Adefa
Sekti Wibawanti (16)
Ø Gholyf
Fahry Al Mustafid (23)
SMP
Negeri 1 Kawedanan
Jalan
Raya A. Yani Kec. kawedanan, Kab. Magetan
Telp/Fax.
(0351) 439 201
Tahun
Pelajaran 2014/2015
KENANGAN
SEJARAH DI MUSEUM DIRGANTARA
Karya
Tulis ini Disusun untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Ujian Nasional
Disusun
oleh :
Ø Qori
Sieta Rawina (04)
Ø Rikha
Listianti (05)
Ø Wira
Damar Arditha (12)
Ø Yuda
Wahyu Romadhon (14)
Ø Adefa
Sekti Wibawanti (16)
Ø Gholyf
Fahry Al Mustafid (23)
SMP
Negeri 1 Kawedanan
Jalan
Raya A. Yani Kec. kawedanan, Kab. Magetan
Telp/Fax.
(0351) 439 201
Tahun
Pelajaran 2014/2015
LEMBAR PENGESAHAN
Karya Tulis berjudul KENANGAN SEJARAH DI MUSEUM
DIRGANTARA MANDALA
Ini telah diterima dan disetujui oleh Dewan Pengesah Karya Tulis
SMPN 1 KAWEDANAN
Hari :
Tanggal :
Tempat : SMPN 1 KAWEDANAN
Tahun
Pelajaran : 2014/2015
Dewan Pengesah
Pembimbing Wali Kelas
MUHADI,
S.Pd
EDY IRYANTO, S.Pd
NIP. NIP. 19571207 197803 1 008
Mengetahui,
Kepala Sekolah
Drs.H.
MUCHAMAD SYAIKUR, MM,M.Mpd
NIP. 19600196 198202 1 005
Motto :
“Dibutuhkan
lebih banyak energi untuk gagal daripada sukses.
Pikiran negatif lebih banyak menguras
energi &
Konsentrasi
daripada pikiran positif”
“Keahlian untuk
memampukan melakukan sesuatu.
Motivasi untuk
mendorong melakukan sesuatu.
Sikap
mencerminkan kualitas pekerjaan”
“Jangan pernah menyerah sebelum mecoba”
“Berangkat dengan penuh keyakinan”
“Berjalan dengan penuh keikhlasan”
“Istiqomah dalam menghadapi cobaan”
PERSEMBAHAN
Karya
ilmiah yang berjudul “Kenangan Sejarah di Museum Dirgantara” ini kami
persembahkan kepada :
1.
Allah SWT
2.
Ayah dan ibu
tercinta
3.
Guru pembimbing
4.
Bapak kepala
kepala sekolah SMP N 1 Kawedanan
5.
Teman-teman SMP
N 1 Kawedanan
6.
Masyarakat serta
bangsa dan negara
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan kasih‐Nya, atas
anugerah hidup dan kesehatan yang telah kami terima, serta petunjuk‐Nya sehingga
memberikan kemampuan dan kemudahan bagi kami dalam penyusunan karya tulis ini.
Didalam
karya tulis ini kami selaku penyusun hanya sebatas ilmu yang bisa kami sajikan,
sebagai syarat Ujian Praktek pelajaran bahasa Indonesia dengan judul
“Penelitian Museum Pusat TNI – AU Dirgantara Mandala”. Dimana didalam judul
tersebut ada beberapa hal yang bisa kita pelajari khususnya Sejarah tentang TNI
AU.
Kami
menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan pemahaman kami tentang Museun
Dirgantara Mandala, menjadikan keterbatasan kami pula untuk memberikan
penjabaran yang lebih dalam tentang masalah ini,oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan karya tulis ini.
Maksud
atau tujuan pembuatan karyatulis ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat
menempuh Ujan Akhir Nasional tahun pembelajaran 2013/2014
Penulis
terima kasih mengucapkan kepada pihak-pihak yang membantu dalam pembuatan
karyatulis ini, yaitu kepada :
1. Bapak Prs. Jamaludin Malik selaku Kepala SMPN
1 Cikalong yang telah memberi izin penyelenggaraan karyawisata dalam rangka
pengumpulan data untuk membuat karya tulis ini.
2. Bapak H. Hunaji BA selaku Wali Kelas IX-A
yang telah membimbing dalam pengumpulan data untuk karya tulis ini.
3. Bapak H. Suryana S.Pd selaku guru pembimbing
pembuatan karya tulis yang telah membimbing dan memberi pengarahan dalam
pembuatan karyatulis ini.
4. Bapak Drs. Ibrahim, Bapak Drs. Undang R, Ibu
Imas Masitoh S.Pd, dan Bapak Acep Ikhwan S.Pd Wahyu selaku guru pendamping kegiatan
karyawisata yang telah mendampingi penulis dalam kegiatan observasi untuk
pengumpulan data karyatulis ini.
5. Orang tua penulis yang telah
mendampingi.membimbing, dan memberi support penulis dalam penulisan karyatulis
ini.
6. Pihak Dirgantara Yogyakarta yang telah
bersedia memberi informasi dan pengarahan dalam kegiatan observasi untuk
membuat karya tulis ini.
7. Diana Amelya, Emi Prihartini, Popoh
Nurajijah, dan Irwan Rustiana selaku anggota kelompok penulis yang telah
membantu dalam pengumpulan data untuk membuat karyatulis ini.
Harapan
kami, semoga karya tulis ini membawa manfaat bagi kita, setidaknya untuk
sekedar membuka cakrawala berpikir kita tentang Museum Dirgantara Mandala.
“Tiada
seorang pun di dunia ini yang sempurna”, ungkapan inilah yang membuat penulis
mengakui bahwa pasti karyatulis ini tidak 100% sempurna. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik apabila terdapat suatu kesalahan dalam
karya tulis ini. Penulis berharap walaupun karyatulis ini bukanlah karya tulis
yang terbaik, karyatulis yang dapat membanggakan semua orang yang penulis
sayangi dan hargai.
Akhir kata,
kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses
pembuatan ini. Terutama kepada rekan satu kelompok atas kerjasamanya, dan Guru
Bahasa Indonesia yang telah membimbing dalam penyusunan karya tulis ini.
Kawedanan, Januari 2014
Penulis
III
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...........................................................I
KATA
PENGANTAR...................................................................II
DAFTAR ISI..................................................................................III
MOTTO..........................................................................................IV
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah..................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................
1
1.3 Tujuan
Penulisan..............................................................................2
1.4 Metode
Punulisan................................................................................... 2
1.5 Kugunaan Penulisan............................................................................... 3
1.6 Sistem Matika
Penulisan........................................................................ 3
BAB II
PEMBAHASAN........................................................................ 4
2.1 Sejarah Museum Pusat TNI-AU
Dirgantara Mandala...................4
2.2 Lokasi Museum Pusat TNI-AU
Dirgantara Mandala....................8
2.3 Keunikan Museum Pusat TNI-AU
Dirgantara Mandala....................8
2.4 Ruangan-ruangan di Museum Pusat
TNI-AU Dirgantara Mandala...9
2.5 Koleksi-koleksi di Museum Pusat
TNI-AU Dirgantara Mandala ...10
BAB III PENUTUP...............................................................................
A. Kesimpulan.............................................................................................
B. Saran.......................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................
IZIN
PENELITIAN...............................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Bab ini
memuat alasan penulis memilih judul Penelitian Museum Pusat TNI-AU Dirgantara
Mandala. Kegiatan observasi, yaitu pengenalan dan penelitian secara langsung
pada objek-objek yang berhubungan dengan materi yang disampaikan tersebut,
menjadi sangat penting untuk dilaksanakan. Dengan observasi, penulis tidak
hanya mengetahui, tetapi penulis juga dapat mengenal dan memahami objek secara
langsung. Karyawisata merupakan salah satu kegiatan observasi.
Museum
adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat
terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan,
dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan,
dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis,
dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif
pada masa depan. Sejak tahun 1977, setiap tanggal 18 Mei diperingati sebagai
Hari Museum Internasional.
Di Indonesia
terdapat banyak museum tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, Museum
Dirgantara Mandala adalah salah satunya. Berbeda dengan museum-museum
perjuangan yang lain, di museum ini dipamerkan berbagai jenis pesawat terbang
yang pernah dimiliki Indonesia, khususnya TNI AU. Selain itu, di museum yang
berlokasi di Yogyakarta ini, terdapat pula diaroma-diaroma perjuangan bangsa
Indonesia, khususnya TNI AU dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.
Museum
Dirgantara Mandala merupakan satu-satunya Museum Pusat TNI AU. Pengelolaanya
pun langsung ditangani oleh TNI AU itu sendiri. Tidak banyak yang mengetahui
keberadaan Museum ini, termasuk siswa-siswi SMP Negeri 1 Cikalong sendiri,
hanya sebagian kecil yang mengetahuinya. Maka dengan diadakannya karya wisata
ini diharapkan siswa-siswi dapat mengenal lebih dekat tentang kedirgantaraan
Indonesia sehingga timbul rasa kebanggaan terhadap bangsa yang ternyata
memiliki banyak peninggalan sejarah yang tidak kalah hebatnya dengan
negara-negara lain.
1.2 PERUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
hasil observasi yang penulis lakukan, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut :
a. Bagaimana sejarah berdirinya Museum Pusat TNI
AU Dirgantara Mandala?
b. Bagaimana perkembangan Museum Pusat TNI AU
Dirgantara Mandala dari masa ke masa?
c. Sebutkan koleksi-koleksi yang dipamerkan di
Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala?
d. Bagaimana bentuk denah dan dimana kah lokasi
detail Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala ?
e. Apakah ciri khusus atau keunikan Museum Pusat
TNI-AU Dirgantara Mandala ?
f. Apa saja ruangan-ruangan yang terdapat di
Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala
serta apa saja isinya ?
1.3 TUJUAN
PENULISAN
Penulis menjelaskan :
1.
Sejarah Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.
2.
Denah dan lokasi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.
3.
Ruangan-ruangan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.
4.
Ciri khusus atau keunikan Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.
5.
Koleksi-koleksi di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.
6.
Untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Ujian Nasional,
7.
untuk melatih pembuatan karya tulis berikutnya,
8.
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang sejarah dan benda-
benda peninggalan sejarah yang ada di Indonesia,
benda peninggalan sejarah yang ada di Indonesia,
9.
Menumbuhkan rasa kebanggaan siswa terhadap kebesaran dan kejayaan
bangsa Indonesia pada masa lalu.
bangsa Indonesia pada masa lalu.
1.4 METODE
PENULISAN
Bab ini
mengungkapkan berbagai teknik yang digunakan dalam mengumpulkan datauntuk
penyusunan karya tulis, yaitu :
1.
Study Putaka
Penulis
membaca dan mempelajari beberapa buku ayau literature yang berkaitan dengan
obkel penulisan.
2.
Interview
Metode
pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara dengan narasumber.
3.
Observasi
Observasi
merupakan metode pengamatan. Penulis secara langsung melakukan pengamatan
terhadap objek yang akan digunakan
sebagai bahan karya tulis.
2
1.5 KEGUNAAN PENULISAN
1.6
SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I
PENDAHULUAN, meliputi:
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Perumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Metode Penulisan
1.5 Kegunaan Penulisan
1.6 Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN
UMUM MUSEUM PUSAT TNI AU DIRGANTARA MANDALA YOGYAKARTA, yang mencakup :
2.1 Sejarah Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala
2.2 Denah dan Lokasi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala
2.3 Keunikan Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala
2.4 Ruangan-ruangan di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala
2.5 Koleksi-koleksi di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala
BAB III
PENUTUP, terdiri atas:
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
3
BAB II
PEMBAHASAN
Bab ini memuat (1) Sejarah Berdirinya Museum Pusat TNI-AU Dirgantara
Mandala, (2) Denah dan lokasi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala, (3) Ciri
kuhus atau keunikan Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala, (4) Ruangan-ruangan
di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, (5) Koleksi-koleksi di Museum Pusat
TNI-AU Dirgantara Mandala.
2.1 SEJARAH
BERDIRINYA MUSEUM PUSAT TNI - AU DIRGANTARA MANDALA
Bab ini memuat sejarah berdirinya
Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala.
Hal-hal yang
mendorong didirikannya Museum, sebagai berikut :
1. Semua kegiatan dan peristiwa bersejarah dalam
pertumbuhan dan perkembangan TNI AU
serta semua pengorbanan para pejuang dan pahlawan udara dalam membina
dan merintis AURI, serta mempertahankan dan menegakan kemerdekaan NKRI perlu
dilestarikan.
2. Dalam
rangka pewarisan nilai-nilai 45 yakni bahwa pengabdian dan pendokumentasian
tersebut perlu untuk direalisasikan dalam bentuk visualisasi bukti sejarah agar
dapat diketahui, diterima, dihayati dan diamalkan oleh generasi muda.
4
2.1.1 Museum Pusat Angkatan Udara
Republik Indonesia (Museum Pusat AURI) di Jakarta.
Hasrat untuk mengabadikan dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan maupun
peristiwa-peristiwa bersejarah di lingkungan AURI itulah yang menjadi dasar
didirikannya Museum AURI, yang kemudian dituangkan dalam Keputusan
Menteri/Panglima AU No. 491 tanggal 6 Agustus 1960 tentang Dokumentasi Sejarah
dan Museum AURI. Meskipun demikian realisasinya tidak secepat yang diharapkan.
Museum AURI baru bisa diwujudkan tanggal 21 April 1967. Semula masih bersifat
embrio, dan organisasinya masih dibawah pembinaan Asisten Direktorat Humas
AURI. Museum yang masih berstatus embrio ini mempunyai tiga bagian, yaitu :
2.1.1.1 Bagian pembinaan benda-benda
2.1.1.2 Bagian administrasi dan diskripsi
2.1.1.3 Bagian dokumentasi dan pameran
Kegiatan Museumpun masih terbatas, karena kurangnya tenaga profesional
maupun biaya. Namun sejak dikeluarkannya Instruksi Menteri / Panglima AURI No.
2 tahun 1967 tentang Peningkatan Peningkatan Bidang Sejarah dan Museum AURI,
maka mulai ada titik terang dan dapat meletakan rencana kerja bagi
perkembangannya.
Kemudian berkat perhatian besar dari pimpinan AURI (Pangkowilu) maka pada
tanggal4 April 1969 diresmikanlah Museum Pusat TNI AU oleh Menteri Pangkima
Angkatan Udara Laksamana Udara Roesmin Nuryadin.
Dalam peresmian tersebut hadir pula para perintis dan tokoh TNI-AU
diantaranya : Mantan Kepala Staf TNI-AU Laksamana Udara R. Suryadi Suryadarma,
Laksda Udara (Purna) Dr. Suhardi Hardjo Lukito, Pangkowilu V Laksda Udara Saleh
Basarah, Kapusjarah ABRI Kol Tit, Drs. Nugroho Notokusumo.
Museum Pusat
ini berlokasi di kawasan Markas Komando Wilayah Udara V (Makowilu) Jalan Tanah
Abang Bukit Jakarta Pusat.
5
2.1.2 Menuju
Museum Pusat TNI-AU DIrgantara Mandala
Sementara
itu, di Lembaga Pendidikan AKABRI Bagian Udara Yogyakarta YANG SAAT INI BERNAMA
Akademi Angkatan Udara/AAU, sudah
memiliki Museum Pendidikan / Karbol, sehingga mulailah adanya pemikiran yang
mengarah pada pengembangan dan upaya menyatukan/mengintegrasikan kedua Museum
tersebut. Di samping itu timbul pemikiran untuk mempertimbangkan dalam
menentukan lokasi Museum, bilamana keduanya berhasil disatukan, yang kemudian
mengarah ke Yogyakarta.
Adapun dasar
pertimbangannya, adalah sebagai berikut:
2.1.2.1 Pada
peristiwa 1945 – 1949 Yogyakarta memegangg peranan penting sebagai tempat lahir dan pusat perjuangan TNI- AU.
2.1.2.2 Yogyakarta adalah tempat penggodokan
Taruna-taruna AU calon Perwira TNI AU.
2.1.2.3
Semangat minat dirgantara, nilai-nilai 45 dan tradisi juang TNI AU
mengacu pada semangat Maguwo.
Atas dasar pertimbangan tersebut, maka
KASAU mengeluarkan Surat Keputusan No. Kep/II’IV/1978 tanggal 17 April 1978
menetapkan bahwa Museum Pusat AURI yang semula berkedudukan di Jakarta,
dipindahkan ke Yogyakarta, diintegrasikan dengan Museum Pendidikan menjadi
Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala dengan memanfaatkan gedung Link Trainer
di kawasan Ksatrian AKABRI Bagian Udara. Operasi Boyong pemindahan benda-benda
koleksi Museum AURI di Jakarta ke Yogyakarta telah dimulai sejak November 1977.
Dalam Langkah penyempurnaan pemindahan lebih lanjut berdasarkan Keputusan KASAU
No. Skep./04/IV/1978 tanggal 17 April 1978 dilengkapi dengan pemberian nama
Museum tersebut dengan nama “Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala”. Pembukaan
dan peresmian Museum ini bersamaan pula dengan peresmian Museum Sekbang Pertama
1945 yang berlokasi di dekat Base Ops Lanud Adi Sutjipto, yang dilakukan oleh
Kepala Staf TNI-AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi, bertepatan dengan peringatan
Hari Bakti TNI AU 19 Juli 1978. Perlu dicatat bahwa Pembinaan Museum Pusat
TNI-AU Dirgantara Mandala, mencangkup pula Museum Sekbang Pertama tahun 1945
yang berlokasi di dekat Base Ops Lanud Adisujipto, yang kini telah dialihkan
statusnya sebagai Museum Sekbang Pertama dengan nomor Inventaris Monumen TNI-AU/No.in/o1/Adi/Men.
6
2.1.3.
Museum Pusat TNI-AU Diegantara Mandala di Kawasan Lanud Adijupto
Dengan pertimbangan bahwa koleksi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala
teus berkembang dan bertambah terutama Alustista Udara berupa pesawat terbang,
sehingga gedung museum di Kesatrian AKABRI Bagian Udara tidak dapat menampung,
serta lokasinya sukar dijangkau pengunjung, maka Pimpinan TNI-AU memutuskan
untuk memindahkan lagi.
Pimpinan TNI-AU kemudian menunjuk dan memutuskan bahwa gedung bekas pabrik
gula di Wonocatur Lanud Adisujipto yang di masa pendudukan Jepang digunakan
sebagai gudang logistic, segera direhabilitasi untuk dimanfaatkan sebagai
Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala pada tanggal 17 Desember 1982 Kepala
Staf TNI-AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani sebuah prasasti. Hal
ini diperkuat dengan Surat Perintah Kepala Staf TNI-AU No. Sprin/05/IV/1984
tanggal 11 April 1984 tentang rehabilitasi gedung bekas pabrik gula tersebut
untuk dipersiapkan sebagai gedung permanen Museum Pusat TNI-AU Dirgantara
Mandala. Dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 29 Juli1984 Kepala Staf
TNI-AU Marsekal TNI Sukardi meresmikan penggunaan gedung yang sudah direhap
tersebut sebagai gedung Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Luas area museum
seluruhnya lebih kurang 4,2 Ha. Luas bagunan seluruhnya yang digunakan 8.735
m2.
7
2.2 LOKASI MUSEUM PUSAT TNI-AU DIRGANTARA MANDALA
Museum Pusat
TNI-AU Dirgantara Mandala berada di kawasan Pangkalan Udara TNI-AU Adisujipto,
kurang lebih 6 kilometer timur pusat kota Yogyakarta. Museum ini tidak jauh
dari jalan raya rute bus Yogya-Solo dengan cek point SD Angkasa.
Museum ini
dapat dijangkau dengan sarana transportasi sebagai berikut :
2.2.1. Dengan kendaraan pribadi atau sewa bus, langsung
ke lokasi museum dengan cek point SD Angkasa Lanud Adisujipto di tepi jalan
raya rute Yogya-Solo.
2.2.2.
Dengan kendaraan umum (bus), dari terminal bus Yogyakarta, menggunakan bus jurusan Solo atau bus kota jalur 7 menuju
museum dengan xek point SD Angkasa.
2.2.3.
Dengan kendaraan umum (KA), dari stasiun Tugu Yogyakarta menggunakan bus kota
ke terminal bus menuju museum dengan cek point SD Angkasa seperti pada butir
2.2.2.
2.2.4.
Dengan pesawat terbang, dari Bandara Adisujipto menuju museum kurang lebih 3
km, dapat menggunakan taksi atau kendaraan umum/ bus-colt menuju ke Yogya,
dengan cek point SD Angkasa.
2.3 KEUNIKAN MUSEUM PUSAT TNI-AU DIRGANTARA MANDALA
Bab ini memuat (1) Ciri khusus atau keunikan Museum Pusat TNI-AU Dirgantara
Mandala. Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala menyimpan benda-benda koleksi
yang sebagian besar berupa pesawat terbang yang pernah digunakan oleh TNI-AU,
koleksi pesawat terbang tersebut berasal dari berbagai Negara, baik dari Negara
Barat maupun dari Timur. Di samping itu dismpan juga pesawat terbang buatan
putra-putra bangsa sendiri. Dengan kata lain bahwa koleksi pesawat terbang di
Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala ini berasal dari
8
2.4 RUANGAN-RUANGAN DI MUSEUM PUSAT TNI-AU DIRGANTARA MANDALA
Bab ini
memuat ruangan-ruangan di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala.
Ruangan-ruangan di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala mempunyai nama
masing-masing yaitu :
2.4.1. Ruang Utama, memuat koleksi lambang TNI-AU
beserta jajarannya. Para Pahlawan Nasionalk dari TNI-AU, foto para tokoh
penerima Bintang Swa Bhuwanan Paksa, serta tanda-tanda kehormatan militer
2.4.2. Ruang Kronologi 1, yang menggambarkan sejarah
perjuangan dan perkembangan TNI AU mulai dari Proklamasi Kmerdekaan RI tahun
1945.
2.4..3.
Ruang Kronoogi II, di ruangan ini memuat barang-barang dan benda yang pernah
dipakai oleh Para Mantan Kasau dan Para Perintis berdirinya TNI-AU.
2.4.4. Ruang Alutsista I dan II, memuat koleksi alat
utama dan system senjata udara yang pernah digunakan oleh TNI-AU dari tahun
1945 hingga tahun 1970-an.
2.4.5. Ruang Paskhasau, memuat koleksi dan
benda-benda yang berkaitan dengan Kotama di jajaran TNI-AU, diantaranya : Kopaskhasau,
Kodikau, AAU, Seskoau, Koharmatan, KOOPSAU, Kohanudnas dan perkembangan Sekolah
Penerbang TNI Angkatan Udara.
.2.4.6.
Ruang Paskhas, memuat tentang lambang-lambang skadron udara dan jenis pesawat
pendukungnya, serta koleksi buku-buku terbitan TNI-AU yang pernah mendapatkan
penghargaan dari Museum MURI Jawa Tengah atas prestasinya TNI-AU yang telah
menerbitkan 100 judul buku dalam satu tahun.
2.4.7. Ruang Diorama I, II III SKSD memuat
berbagai diorama.
9
2.5
KOLEKSI-KOLEKSI DI MUSEUM PUSAT TNI-AU DIRGANTARA MANDALA
Bab ini
memuat Koleksi-koleksi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Koleksi Museum
Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala dipamerkan sesudai dengan kronologi/urutan
peristiwa sejarah TNI-AU. Mengingat bahwa tidak semua koleksi yang mendukung
buku sejarah dipamekan pada ruang kronologi, maka koleksi tersebut dikelonpokan
pada suatu runag yakni koleksi pesawat . Sedang peristiwa yang memiliki bukti
berupa gambar divisualisasikan dalam bentuk diorama yang bersifat imajiner.
A. RUANG UTAMA
1. Beberapa foto Mantan Pimpinan TNI – AU
a. Laksamana Udara suryadi Pimpinan
TNI – AU (Kepala stafmTRI AU tahun1946 – 1962)
b. Laksamana Udara Omar Dani (Mentri
Panglima Angkatan Udarta tahun 1962 – 1965)
c. Laksamana Muda Udara Sri Muljono
Herlambang (Menteri Panglima Angkatan Udara 1965 – 1966)
d. Laksamana Muda Udara Roesmin
Nurjadin ( Menteri Panglima angkatan udara tahun 1966 – 1969
e. Marsekal TNI Suwoto Sukendar
(Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 1969 – 1973
f. Marsekal TNI Saleh Baasarah
(Kepala Staf TNI Angkatan Udara Tahun 1973 – 1976)
2. Lambang – Lambang
a. Swa Bhuwana adalah lambing TNI
angkatan Udara, yang artinya sayap Tanah Air
b. Panji – Panji TNI AU diresmikan
oleh presiden angkatan perang pada tanggal 5 Oktober tahun 1952 bersama dengan
panji – panji angkatan Darat dan Panji – panji angkatan Laut
c. Pataka Komando Opearesi TNI AU
(Koopsau)
Motto : Abhibuti Antarikhse
Artinya : keunggulan di udara adalah tujuan utama
d. Pataka Komando Panduan tempur
Udara (Kopatdara)
Motto : Nitya Smakta Maarwati Sarwabaya
Artinya : senantias siga bertindak terhadap segala ancaman bahaya
e. Pataka komando pertahanan Udara
(Kohadud)
Motto : Surakhsita Nabhastata
Artinya : Udara yang di pertahankan dengan baik
3.. Patung Empat Pahlawan Nasional Perintis TNI AU:
a. Marsekal Muda TNI Anumerta
Agustinus Adisutjipto
b. Marsekal Muda TNI Anumerta Prof.
Dr. Abdurachman Saleh
c. Marsekal Muda TNI Anumerta Abdul
Halim Perdanakusuma
d. Marsekal Muda TNI Anumerta Iswahyudi
10
B. RUANG KRONOLOGI I
Pada tanggal 23 Agustus 1945 di
umumkan berdirinya Badan Keamanan rakyat (BKR). Tugas utama BKR udara adalah
rakyat merebut dan menguasai pangkalan Udara setempat, beserta pesawat terbang
dan fasilitas lainya dari tang jepang, sesuai dengan adanya maklumat pemerintah
5 Oktober 1945. BKR di tingkatkan menjadi TKR (tentara Keamanan Rakyat)
Kegiatan yang berhasil dan
menunjukan eksistensi TKR Jawatan Penerbangan antara lain:
a. Pada bulan oktober 1945
Penerbangan pertama di am Indonesia merdeka, pesawat dan fasilitas lainya di
rebut dan dikuasi oleh BKR Yogyakarta dari tangan jepang
b. Sekolah penerbangan pertama di
Maguwo. Sekolah penerbangan pertama yaitu pada tanggal 15 November di resmikan
dan diperingati sebagai hari jadi komando pendidikan TNI AU atau Kodikau
c. Latihan terjun payug. Penerbangan
yang membawanya waktu Bapak Agustinus, Adisucipto, Iswahyudi dan makmur Suhodo
C. RUANG KRONOLOGI II
Pendidikan kadet – kadet AURI di
dalam dan luar negeri:
a. Sekolah Penerbangan lanjut di
Andir dan Kalijati
Angkatan ke I SPI Primary Training
dengan pesawat T-^ / AT-16 A
Angkatan ke III SPI adalah kelas
terakhir yang di selenggarakan di Andir (Husen Sastranegara) karena tahun 1953
SPI di pindahkan ke pangkalan udara Kalijati yang menghasilkan empat (4)
angkatan atas pertimbangan Historis SPI di pindahkan ke Lanud Adi Sutjipto
tahun 1959
b. Pengiriman Kadet – kadet ke luar
negeri
Selain pendidikan SPI di dalam
negeri, maka pada tahun 1950 dikirim pula 60 Kadet untukl mengiokuti Pendidikan
penerbangan pada Taiola Akademi Of Aeronautis di Oakland California dan
menjelang akhir tahun 1951 pendidikan telah selesai dan para Kadet kembali ke
Indonesia
11
D. RUANG ALUTSISTA
1. Mitsubishi A6 MS Zero Sen
Negara asal ; Jepang
Jenis : Pemburu Taktis
Buatan tahun : 1983
Panjang Sayap : 11 M
Panjang badan : 9,06 m
Berat Maksimum : 2,744 Kg
Kecepatan Maksimum : 570 Km/jam
Akomodaasi : 1 awak Pesawat
Sejarah :
1941 : Pertama kali digunakan jepang
dalam perang melawan amerika di cina
1942 – 1945 : Dalam perang pasifik
melawan sekutu zero berpangkalan di daerah irian barat
1984 : Diabadikan di museum pusat
TNI AU Dirgantara Mandala
2. P – 51 Mustang
Negara asal ; Amerika Selatan
Jenis : Pemburu Taktis
Panjang Sayap : 11,28 m
Panjang badan : 9,81 m
Berat Maksimum : 7000 Kg
Kecepatan Maksimum : 735 Km/jam
Akomodaasi : 1 awak Pesawat
Persenjataan : 6 buah browing
kaliber 12,7 = 8 Buah roket Laucher, 2 buah bom
Sejarah :
1950 – 1965 : Operasai penumpasan DI
TII Jawa Barat,Aceh, Sulawesi Selatanm
1958 : Operasi PRRI
1962 – 1963 : Operasi Trikora
1964 : Operasi Dwikora
1965 : Opersi G30S/PKI
1967 – 1969 : Oprasi Trisula
1978 : Diabadikan di museum Pusat
TNI AU Dirgantara Mandala
12
E. RUANG PASKHASAU
1. Sisa – sisa Operasi Trikora
a. Oleh : Penduduk setempat
b. Tanggal : 27 mei 1992
c. Tempat : Gunung Madogma Kecamatan
pasir, kabupaten Fak – fak Irian Barat
2. Uniform Pasukan TNI – AU
3. Meriam PSU (Cannon)
Negara asal : Swedia
Merk Pabrik : Bafors
Kaliber . type : 40 m/1 60
Tahun pembuiatan : 1962
Berat : 1.586 Kg
Panjang laras : 2,5 m
Kecepatan tembak : 2,742 m
Kecepatan awak : 873 m / detik
F. RUANG DIORAM
1. Serangan udara pertama dan
penembakan VT – CIA
2. Peristiwa 19 Desember 1948
Pada tanggal 19 Desember 1984
terjadi pertempuran yang heroik di pangkalan udara Maguwo Angkatan Belanda
Udara Mengarahkan:
- 9 buah pesawat tempur P – 40 Kitty
Hawk
- 5 Buah Pesawat tempur P – 15
Mustang
- 17 Buah pesawat Ngkut C – 47
Dakota
3. Sekolah penerbanagan AURI
Angkatan I 15 November 1945, 21 Juli 1947 peristiwa bersejarah di mulainya
pendidikan penerbangan yang pertama kalinya sejak Indonesia merdeka di resmikan
sebagai hari jadi komando pendidikan TNI AU (Kodkau) sehingga tanggal 15
November di peringati dan dirayakan setiap tahunya
13
BAB III
PENUTUPAN
3.1
KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan karya tulis ini, penulis
mengambil kesimpulan yaitu:
1. Museum adalah suatu tempat menyimpan
benda-benda yang bernilai sejarah agar tidak hilang dan rusak sehingga dapat
dinikmati berbagai generasi, itu diharapkan mereka dapat mengetahui sejarah dan
dapat menghargai hasil yang telah dicapai generasi terdahulu sehingga mereka
dapat mengambil hikmah dan sejarah itu sendiri,
2. Museum berfungsi menyimpan benda-benda
yang bernilai sejarah yang patut mendapat perhatian umum. Selain itu museum
merupakan sarana yang efektif untuk mewariskan nilai-nilai luhur perjuangan,
3. Museum berpungsi juga untuk tempat
berekreasi dan mendidik
4. Museum Pusat TNI AU Dirgantara
Mandala secara visual menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya TNI
AU dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.
5. Museum Pusat TNI AU Dirgantar
Mandala memilki cirri khusus dan keunikan yang luar biasa dan berharga bagi
bangsa Indonesia
6. Untuk mengatahui wawasan ilmu
pengetahuan tinggi yang pernah di capai oleh para pejuang dan para pahlawan
udara dalam membina dan merintis angkatan udara Republik Indonesia
7. Sebagai usaha pelestarian benda –
benda bersejarah KRI.
8. Untuk menambah pengetahuan dan
wawasan tentang sejarah dan benda-benda peninggalan sejarah yang ada di
Indonesia,
9. Menumbuhkan rasa kebanggaan siswa
terhadap kebesaran dan kejayaan bangsa Indonesia pada masa lalu.
10. Museum Dirgantara berperan dalam Menambah pengalaman, mengetahui lokasi,
serta Memberikan nilai-nilai pendidikan dan pengetahuan
11. Museum Dirgantara berperan dalam Memberikan
pengetahuan tentang sejarah yang telah dicapai generasi terdahulu dan dapat
mengambil hikmah sejarah itu sendiri.
12. Menambah pengetahuan terhadap kita bahwa pada masa
saat itu bangsa Indonesia memiliki banyak sekali pesawat-pesawat yang canggih
13. Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala secara visual
menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya TNI AU dalam merebut dan
mempertahankan kemerdekaan NKRI.
14
3.2 SARAN
1. Dengan mengenal benda-benda
bersejarah, tanamkanlah dalam diri kita jiwa dan semangat kepahlawanan,
2. Lestarikan dan peliharalah peninggalan-peninggalan
sejarah agar tidak sampai hilang dan rusak,
3. Binalah persatan dan kesatuan bangsa
agar peristiwa masa lalu tidak kembali,
4. Teruskanlah perjuangan para pahlawan
dengan membangun Bangsa Indonesia lebih maju.
5. Kepala pengelola objek wisata agar
meningkatkan pelayanan dan menarik pengunjung
6. Kepada pemerintah agar melengkapi
sarana dan prasarana serta benda yang ada di dalam museum dapat di perbaiki
kembali supaya tahan lama keunikannya
7. kepada masyarakat agar dapat bersama
– sama menjaga objek wisata baik berupa alam maupun peninggalan bersejarah masa
lampau dan agar dapat di nikmati sepanjang masa
Demikian
saran-saran yang dapat penulis kemukakan, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Amin.

Sangat membantu kak
BalasHapus